Senin, 18 April 2011

Congregatio Sanctissimi Redemptoris (C.Ss.R)


Sekilas Tentang Pendiri 
Santo Alfonsus Maria de Liguori, Uskup dan Pujangga Gereja. Lahir pada tanggal 27 September 1696 di sebuah kota dekat Napoli, Italia pada tanggal 27 September 1696. Ia meninggal dunia di Nocera pada tanggal 1 Agustus 1787.
Alfonsus berasal dari sebuah keluarga bangsawan Kristen yang saleh. Orangtuanya, Joseph de Liguori dan Anna Cavalieri mendidik dia dengan baik dalam hal iman dan cara hidup Kristiani. Ayahnya berpangkat Laksamana dalam jajaran militer Kerajaan Napoli. Oleh karena itu tidaklah mengherankan apabila Alfonsus memperoleh pendidikan ala militer dengan disiplin yang keras. Sekali seminggu ia disuruh tidur di lantai tanpa alas. Maksudnya ialah agar ia terbiasa dengan pola hidup yang keras dan tidak manja.
Sejak kecil Alfonsus sudah menunjukkan bakat-bakat yang luarbiasa. Tak terbayangkan bahwa ia dalam usianya yang begitu muda, 16 tahun, sudah meraih gelar Doktor Hukum di Universitas Napoli, dengan predikat “Magna cum Laude”. Karyanya sebagai seorang Sarjana Hukum dimulainya dengan menjadi advokat/pengacara. Ia selalu menang dalam setiap perkara yang dibelanya. Karena itu ia banyak mendapat tanda penghargaan dari orang-orang yang telah ditolongnya.
Pada tahun 1723 ia diminta membela satu perkara besar. Untuk itu ia berusaha keras mengumpulkan dan meneliti berbagai data tentang perkara itu. Namun keberuntungan rupanya tidak memihak dia. Karena suatu kesalahan kecil ia akhirnya dikalahkan oleh pengacara lawannya. Dengan muka pucat pasi ia beranjak meninggalkan gedung pengadilan. la mengakui lalai dalam meneliti semua data penting dari perkara itu. la mengalami shock berat dan selama tiga hari ia mengurung diri dalam biliknya merenungi kekalahannya.
Di satu pihak kekalahannya itu sungguh menekan batinnya tetapi di pihak lain kekalahan itu justru menjadi pintu masuk baginya untuk menjalani kehidupan bakti kepada Tuhan dan sesama. Setelah banyak berdoa dan merenung di depan Tabernakel, ia menemukan kembali ketenangan batin. Ketenangan batin itu menumbuhkan dalam hatinya suatu hasrat besar untuk menjadi seorang rohaniwan. Ketika sedang melayani orang di rumah sakit sebagaimana biasanya, ia mendengar suatu suara ajaib berkata: “Alfonsus, serahkanlah dirimu kepadaKu”. Alfonsus terhentak sejenak karena suara ajaib itu terdengar begitu jelas. Lama kelamaan, ia sadar bahwa suara itu adalah suara panggilan Tuhan. Kesadaran ini mendesak dia untuk menentukan sikap tegas terhadap suara panggilan itu. Ia mengambil keputusan untuk menjadi seorang rohaniwan yang mengabdikan diri seutuhnya kepada Tuhan. Keputusan itu disampaikan kepada orangtuanya. Ayahnya sangat kecewa dan tidak mau lagi bertemu dengan dia. Biara pun berkeberatan menerimanya karena alasan kesehatan. Syukurlah uskup setempat meluluskan niat bekas advokat itu. Semenjak itu ia dengan tekun mempelajari teologi dan mempersiapkan diri sebaik-baiknya agar bisa menjadi seorang imam praja yang baik. Kesungguhan persiapannya itu terutama dilatarbelakangi oleh cara hidup imam-imam masa itu yang kurang mencerminkan keluhuran martabat imamat, dan karenanya umat sering memandang rendah mereka.
Alfonsus kemudian ditahbiskan menjadi imam pada tahun 1726. Imam muda ini begitu cepat terkenal di kalangan umat karena kotbahnya yang menarik dan mendalam. Selain menjadi seorang pengkotbah
ulung, la pun menjadi bapa pengakuan yang disenangi umatnya. Karyanya sejak awal kehidupannya sebagai imam diabdikannya kepada orang-orang miskin dan pemuda-pemuda gelandangan di kota Napoli. Ia berusaha mengumpulkan mereka untuk memberi pelajaran agama dan bimbingan rohani.

Pada tahun 1729, ia menjadi imam kapelan di sebuah kolese yang khusus mendidik para calon imam misionaris. Di sana ia berkenalan dengan Pater Thomas Falciola, seorang imam yang memberi inspirasi dan dorongan kepadanya untuk mendirikan sebuah institut yang baru.
Kepadanya Pater Falciola,menceritakan tentang Para suster binaannya di Scala yang menghayati cara hidup yang keras dalam doa dan matiraga. Terdorong oleh inspirasi da semangat yang diberikan Pater Falciola, ia kemudian mendirikan sebuah tarekat religius baru di Scala pada tanggal 9 Nopember 1732. Tarekat ini diberinya nama ‘Congregatio Sanctissimi Redemptoris (C.Ss.R)’, dan mengabdikan diri di bidang pewartaan Injil kepada orang-orang desa di pedusunan. Tanpa kenal lelah anggota-anggota tarekat ini berkotbah di alun-alun, mendengarkan pengakuan dosa dan memberikan bimbingan khusus kepada muda-mudi, pasangan suami-isteri dan anak-anak.

Pada umurnya yang sudah tua (66 tahun), ia diangkat menjadi Uskup Agata, kendatipun ia sangat ingin agar orang lain saja yang dipilih. Sebagai uskup, ia berusaha membaharui cara hidup para imamnya dari
seluruh umat di keuskupannya. Selain itu, ia menulis banyak buku, di antaranya buku Teologi Moral yang terus dicetak ulang sampai abad ini. Tulisan-tulisannya sangat membantu imam-imam teristimewa dalam bidang pelayanan Sakramen Tobat. Dengannya mereka bukan saja mengemban tugas itu dengan penuh kasih sayang, melainkan juga memberikan bimbingan yang tepat kepada umat.

Karena sering jatuh sakit, ia beberapa kali meminta boleh mengundurkan diri sebagai uskup, namun permohonannya baru dikabulkan ketika ia berumur 80 tahun. Ia diperbolehkan kembali ke biara. Pada masa terakhir hidupnya sangatlah berat karena penyakit yang dideritanya dan serangan para musuh terhadap kongregasinya. Akhirnya pada tahun 1787, ketika berusia 91 tahun, ia meninggal dunia dengan tenang di Pagani, dekat Napoli, Italia.





Karya-Karya Redemptoris
Para redemptoris, baik imam maupun bruder, hidup dalam komunitas dan berkarya 
bersama sebagai komunitas dalam berbagai bidang. Pada Kapitel Propinsi Redemptoris Indonesia 2010 telah dirumuskan prioritas karya:
  1. Karya Misi Umat
  2. Karya Pastoral Parokial
  3. Karya Retret
  4. Karya Sosial Ekonomi
Tentu saja empat prioritas di atas tidak bermaksud membatasi karya para redemptoris Indonesia dalam mewartakan penebusan Allah yang berlimpah-limpah. Prioritas pastoral bermaksud memberikan perhatian utama dalam karya-karya pelayanan.
Karya para redemptoris dilaksanakan melalaui lembaga-lembaga propinsi dan secretariat-sekretariat. Lembaga dan secretariat yang ada di Propinsi Redemptoris Indonesia yaitu:
Sekretariat-Sekretariat:
  1. Sekretariat Vita Communis
  2. Sekretariat Pastoral
  3. Sekretariat Sosial
  4. Sekretariat Ekonomi
  5. Sekretariat de Formatione
  6. Sekretariat Keadilan, Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan
  7. Sekretariat Humas
  8. Sekretariat Panggilan
  9. Sekretariat Kaum Muda
  10. Sekretariat Publikasi
Lembaga-lembaga:
  1. SAMUR
  2. Panurma
  3. Yayasan Sosial Donders
  4. Yayasan Pendidikan Nusa Cendana Sumba Timur
  5. Lembaga Studi Budaya Sumba dan Nusantara
  6. Lembaga Kajian dan Bantuan Hukum Sarnelli
Seturut teladan pendiri dan semangat para redemptoris sepanjang sejarah kongregasi, dalam setiap karya para redemptoris mengutamakan mereka yang paling terlantar dan terpinggirkan. Di samping itu, bersama dengan mereka yang dilayani para redemptoris juga belajar hidup beriman secara otentik (menginjili dan diinjili).

Hubungi.....

Taman Bougenville A3-6
Jl. Caman, Jatibening
Pondok Gede
Bekasi
Jawa Barat
17412

Telp(021) 864 5759
Fax(021) 8690 0485


Tidak ada komentar:

Posting Komentar