Selasa, 14 Juni 2011

Ordo Hamba-Hamba Maria ( OSM )



Ordo Hamba-hamba Santa Perawan Maria didirikan oleh tujuh santo yang hidup pada abad ketigabelas. Mereka  berasal dari Florence, Italia. Mereka memiliki cinta mendalam kepada Bunda Maria, Bunda Allah. Mereka adalah anggota aktif suatu konfraternitas ( persaudaraan sejati) Santa Perawan Maria. Kisah bagaimana mereka menjadi pendiri Ordo Servite sungguh menakjubkan. Pada Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, sementara mereka bertujuh khusuk dalam doa, Bunda Maria menampakkan diri kepada mereka. Bunda Allah mengilhami mereka untuk meninggalkan dunia dan hidup hanya bagi Tuhan. Setelah beberapa tahun hidup sebagai pertapa, mereka menghadap uskup. Mereka mohon suatu peraturan hidup yang perlu mereka taati. Uskup mendorong mereka untuk berdoa dan memohon bimbingan Bunda Maria. Santa Perawan Maria kembali menampakkan diri kepada mereka dengan membawa sehelai jubah hitam. Di sampingnya tampak seorang malaikat membawa sebuah gulungan bertuliskan “Hamba-hamba Santa Perawan Maria”. Dalam penglihatan itu, Bunda Maria mengatakan bahwa ia telah memilih mereka menjadi hamba-hambanya. Ia meminta mereka untuk mengenakan jubah hitam. Inilah jubah yang mulai mereka kenakan pada tahun 1240. Mereka juga memulai suatu hidup religius seturut peraturan St Agustinus.

Orang-orang yang mengagumkan ini saling membantu dan menguatkan dalam mengasihi dan melayani Tuhan dengan terlebih baik. Enam dari antara mereka ditahbiskan menjadi imam. Mereka adalah Bonfilius, Amadeus, Hugo, Sostenes, Manettus dan Buonagiunta. Sedangkan yang terakhir, Alexis, tetap dalam statusnya sebagai seorang rohaniwan yang mengagumkan hingga akhir hayatnya. Dalam kerendahan hatinya, Alexis memilih untuk tidak ditahbiskan ke jenjang imamat. Banyak pemuda datang menggabungkan diri dengan para pendiri yang kudus ini. Mereka dikenal sebagai Hamba-hamba Santa Perawan Maria atau Servite. Ordo Servite mendapat persetujuan dari Vatican pada tahun 1259. Ketujuh pendirinya dimaklumkan sebagai santo oleh Paus Leo XIII pada tahun 1888.


Jumat, 10 Juni 2011

Seminari Menengah St. Paulus - Palembang

Sejarah Singkat
Keberadaan Seminari kita diawali oleh empat anak yang setelah lulus Sekolah Rakyat berkeinginan untuk menjadi imam, tepatnya pada tanggal 24 April 1947. Berhubung saat itu belum ada tempat khusus, maka mereka ini ditampung di Pastoran Hati Kudus Palembang, Sumatera Selatan. Mereka didampingi secara khusus oleh para Imam Hati Kudus Yesus (SCJ) dan para Frater dari Kongregasi Bunda Hati Kudus (BHK). Santo Paulus diambil sebagai nama pelindung untuk “cikal-bakal” Seminari ini.
Pada tahun yang sama, di Pringsewu - Lampung, Pastor J.O.H. Padmo Seputro, Pr., merealisir gagasan P. Wahyo Sudibyo, OFM, (Pastor di Metro, Lampung) untuk mendirikan sebuah Sekolah Menengah Katolik St. Joseph, tepatnya pada tanggal 2 Februari 1948. Di antara para siswa SMK inilah dicari, dikumpulkan dan didampingi beberapa anak (paling tidak tercatat ada 8 orang) yang berkeinginan untuk menjadi imam. Mereka tinggal dan hidup di asrama tersendiri, dan untuk kebutuhan harian dibantu para Suster Franciscanes Pringsewu. Karena alasan politik pada waktu itu, yakni bahwa mereka ingin tetap bergabung dan menjadi bagian dari para pejuang kemerdekaan pada waktu itu, maka pada tahun 1949 kelompok kecil ini bersama dengan pastor pembimbingnya pindah (mengungsi?) ke Padang Bulan, beberapa kilometer dari Pringsewu. Namun hal ini tidak berlangsung lama, karena pada tahun itu juga mereka bergabung dengan Seminari St. Paulus Palembang. Mereka diberangkatkan dengan pesawat terbang dari Lampung ke Jakarta, dan dari Jakarta ke Palembang dengan kapal laut.
Dengan penggabungan ini, maka  Seminari St. Paulus Palembang mengalami babak baru. Para pendidik Seminari saat itu antara lain P. Van der Sangen SCJ, P. G. Elling SCJ, P. Piet Middeldorp SCJ, Mr. Lap, dan Fr. Montfort BHK.
Oleh karena alasan politis, maka pada tahun 1950  Seminari St. Paulus dipindahkan ke Lahat, (Sumatera Selatan). Di sini peran para suster Carolus Borromeus sangat besar bagi kelangsungan hidup Seminari. Mereka mendukung dengan Sekolahan mereka, namun juga memenuhi kebutuhan hidup harian para seminaris dan stafnya.
Pada pagi hari, para seminaris bergabung dengan para siswa di sekolahan Suster, dan pada sore hari mendapat pelajaran khusus seminaris.
Pada tahun 1951, tepatnya bulan Agustus, setelah ujian akhir, para seminaris pindah lagi ke Palembang. Kali ini mereka tidak lagi menempati Pastoran Hati Kudus Palembang, namun di Frateran Bunda Hati Kudus, Palembang. Di tempat ini pun tidak lama, karena alasan tempat, mereka segera pindah ke kompleks Rumah Sakit Charitas Palembang berkat kebaikan Kongregasi para Suster Franciscanes Charitas (FCh.). Sementara itu telah diputuskan juga untuk membangun gedung Seminari St. Paulus di samping Sekolah Xaverius, Jl. Bangau.
Pada tanggal 15 Mei 1953 gedung Seminari St. Paulus diresmikan. Sebagai rektor adalah P. Van der Sangen SCJ, dan baru pada tanggal 24 Juni 1954 digantikan oleh P. Van Beek SCJ.
Pelaksanaan pendidikan Seminari banyak dibantu oleh Sekolah Xaverius, namun semua proses pendidikan dijalankan secara terpisah dari Sekolah Xaverius, yakni di dalam kompleks Seminari sendiri. Demikian juga untuk kebutuhan harian Seminari tidak lagi menggantungkan diri dari para Suster Charitas, namun diselenggarakan sendiri.

Visi dan Misi
VISI
St. Paulus
Bekerja sama dengan para orang tua, Gereja setempat dan seluruh umat, Seminari St. Paulus membantu para para alumninya yang dididik dan didampinginya berkembang secara seimbang dalam sanctitas (kesucian), sanitas (kesehatan), scientia (pengetahuan) serta socialitas, agar menjadi pribadi yang dewasa secara menusiawi dan kristiani sehingga mampu menjawab panggilan khusus ke arah imamat dan/atau hidup membiara dalam Gereja.
MISI
  • Mendidik dan mendampingi Seminaris agar berkembang secara seimbang dalam sanctitas, sanitas, scientia, serta socialitas, sehingga menjadi manusia dewasa manusiawi dan kristiani sesuai dengan usianya, semakin mampu menanggapi panggilan Tuhan dan mengambil keputusan hidup sesuai dengan panggilannya.
  • Mendampingi para seminaris agar mengerti dan terbuka terhadap budaya dan agama dalam konteks Indonesia.
  • Membantu Seminaris untuk semakin peka akan kebutuhan Gereja dalam konteks Indonesia, terutama untuk menjadi imam di daerah Sumatera bagian Selatan, yakni Keuskupan Agung Palembang, K. Tanjungkarang, K. Pangkalpinang, Kongregasi Imam-imam Hati Kudus Yesus (SCJ) dan Kongregasi Imam-imam Hati Kudus Yesus dan Maria (SSCC), Kongragasi Para Frater Bunda Hati Kudus (BHK), dan Kongregasi Para Bruder Caritas (FC). Dengan pertimbangan yang khusus, tetap tidak ditutup kemungkinan untuk memilih menjadi imam diocesan dan Kongregasi lain.
Hubungi..

Seminari Menengah St. Paulus
Jl. Bangau 60
Palembang 30113
Telp. 0711 - 351948

Jumat, 03 Juni 2011

Ordo Fratrum Minorum (OFM)

Sekilas Mengenai Pendiri
Fransiskus dilahirkan di kota Assisi, Italia pada tahun 1181. Ayahnya bernama Pietro Bernardone, seorang pedagang kain yang kaya raya, dan ibunya bernama Donna Pica. Di masa mudanya, Fransiskus lebih suka bersenang-senang dan menghambur-hamburkan harta ayahnya daripada belajar. Ketika usianya 20 tahun, Fransiskus ikut maju berperang melawan Perugia. Ia tertangkap dan disekap selama satu tahun hingga jatuh sakit. Pada masa itulah ia mendekatkan diri kepada Tuhan. Setelah Fransiskus dibebaskan, ia mendapat suatu mimpi yang aneh. Dalam mimpinya, ia mendengar suara yang berkata, "layanilah majikan dan bukannya pelayan."
Setelah itu Fransiskus memutuskan untuk hidup miskin. Ia pergi ke Roma dan menukarkan bajunya yang mahal dengan seorang pengemis, setelah itu seharian ia mengemis. Semua hasilnya dimasukkan Fransiskus ke dalam kotak persembahan untuk orang-orang miskin di Kubur Para Rasul. Ia pulang tanpa uang sama sekali di sakunya. Suatu hari, ketika sedang berdoa di Gereja St. Damiano, Fransiskus mendengar suara Tuhan, "Fransiskus, perbaikilah Gereja-Ku yang hampir roboh". Jadi, Fransiskus pergi untuk melaksanakan perintah Tuhan. Ia menjual setumpuk kain ayahnya yang mahal untuk membeli bahan-bahan guna membangun gereja yang telah tua itu.
Pak Bernardone marah sekali! Fransiskus dikurungnya di dalam kamar. Fransiskus, dengan bantuan ibunya, berhasil melarikan diri dan pergi kepada Uskup Guido, yaitu Uskup kota Assisi. Pak Bernardone segera menyusulnya. Ia mengancam jika Fransiskus tidak mau pulang bersamanya, ia tidak akan mengakui Fransiskus sebagai anaknya dan dengan demikian tidak akan memberikan warisan barang sepeser pun kepada Fransiskus. Mendengar itu, Fransiskus malahan melepaskan baju yang menempel di tubuhnya dan mengembalikannya kepada ayahnya.
Kelak, setelah menjadi seorang biarawan, Fransiskus baru menyadari bahwa yang dimaksudkan Tuhan dengan membangun Gereja-Nya ialah membangun semangat ke-Kristenan.
Pada tanggal 3 Oktober 1226, dalam usianya yang ke empatpuluh lima tahun Fransiskus meninggal dengan stigmata (Luka-luka Kristus) di tubuhnya.
Tidak ada seorang pun dari pengikutnya yang menyerah dan mengundurkan diri setelah kematian Fransiskus, tetapi mereka semua melanjutkan karya cinta kasihnya dengan semangat kerendahan hati dan meneruskan kerinduannya untuk memanggil semua orang menjadi pengikut Kristus yang sejati.
Semasa hidupnya, ia juga mendirikan sebuah ordo yang ia beri nama Ordo Fratrum Minorum (OFM).
Santo Fransiskus adalah santo pelindung binatang dan anak-anak. Pestanya dirayakan setiap tanggal 4 Oktober.
OFM Indonesia
“Pergilah dan wartakanlah bahwa kerajaan Allah sudah dekat”. Sabda Yesus inilah yang mendorong Fransiskus Asisi untuk pergi kemana-mana mewartakan kabar gembira. Bagi Fransiskus, biaranya adalah seluruh dunia. Semangat ini diteruskan oleh para saudara Dina; memenuhi seluruh bumi dengan Injil Yesus Kristus termasuk di bumi nusantara Indonesia.
Sejak abad ke-13, para misionaris Fransiskan sudah singgah di Sumatera, Jawa dan Kalimanatan dalam perjalanan ke tanah misi di Tiongkok. Para Fransiskan baru mulai menetap sebagai misionaris di wilayah nusantara pada abad ke 16 dan 17 khususnya di Blambangan, Ternate, Makasar, Minahasa, Sangihe, Timor dan Aceh. 

Para Fransiskan kembali lagi menjejakkan kaki di Bumi Nusantara pada 21 Desember 1929. Atas permintaan P.J. Willekens SJ (Vikaris Apostolik Jakarta/Batavia waktu itu), lima Fransiskan dari Provinsi Belanda tiba di Tanjung Priok. Mereka adalah Azarius de Kok OFM, Paschalis Heitkonig OFM, Michael Lunter OFM, Victorius Beekman OFM, Floribertus Schneider OFM.
Pada mulanya, kelima misionaris awal Fransiskan itu diberi wewenang untuk berkarya di wilayah Jakarta (Batavia) dan sekitarnya seperti di Paroki Kramat dan Meester-Cornelius (St. Yosep- Matraman, sekarang ini), stasi-stasi Tangerang dan Kampung Sawah, Rangkasbitung dan Serang di Banten. Di Jakarta, para Fransiskan ini juga dipercayai untuk menangani Panti Asuhan Vincentius.
Dari Jakarta, Para Saudara Dina bergerak ke Jawa Barat, berkarya di tengah-tengah umat Muslim. Kemudian, para Saudara Dina juga melebarkan misinya ke Yogyakarta, Flores dan Papua. Saat ini, Fransiskan Provinsi St. Mikael Malaikat Agung Indonesia berkarya di 8 keuskupan yaitu K.A. Jakarta, K.A. Semarang, K.A. Ende, K. Bogor, K. Ruteng, K. Atambua serta K. Baucau dan K. Dili di Timor Leste (keuskupan-keuskupan di Papua ditangani oleh OFM Kustodi Fransiskus Duta Damai).


Karya-karya OFM Indonesia
  1. JPIC (Justice, Peace, and Integration of Creation) atau Keadilan, Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan menjadi rangkuman dari Spiritualitas Fransiskan. Sebagai sebuah rangkuman spiritualitas maka semangat ini juga perlu diungkapkan. Supaya spiritualitas ini menjadi gerakan, dibentuklah lembaga JPIC-OFM Indonesia. JPIC-OFM Indonesia berusaha mengupayakan supaya cara hidup dan karya yang menjawab tantangan zaman, kepedulian dan pembelaan bagi yang miskin dan tertindas. Kegiatan-kegiatan JPIC-OFM Indonesia meliputi 5 bidang yaitu bidang Animasi, Litbang, Sosial Karitatif, Ekologi dan Advokasi.
  2. Sosial Karikatif (Panti Asuhan, Rumah Sakit, Rumah Singgah  bagi orang miskin dan Pastoral Rumah Sakit)
  3. Pendidikan (STF Driyakara-Jakarta, Yayasan Fransiskus, Yayasan Santo Fransiskus, Ndoso-Flores, Sekolah St. Fransiskus – Fatuberliu, Timor Leste)
  4. Karya Parokial
Hubungi:

Provinsialat
Jl. Kramat V/10,
Jakarta Pusat, INDONESIA
Telp. 021-3909941
Fax. +62-21-3101940
Email:
framinor@cbn.net.id


Novisiat Transitus
Jl. Kamboja 22, Depok, Jawa Barat
(021) 7773467



Biara St. Bonaventura
Jl. Legi 142 Papringan, Yogyakarta
(0274) 566021



Biara St. Yosep
Pagal, Manggarai, NTT 86508
(0385) 21872 (Biara Karot)



Biara St. Fransiskus Asisi
Tenubot/Kp. Kuneru
Kel. Manumutin RT 007 / RW 002
Atambua NTT 85712



Fundasi St. Antonius dari Lisboa
Camara Eclesiastica, nr 50
Avenida dos Direitos Humanos
Caixa Postal 100, Bidau Lecidere
Dili, Timor Leste

Rabu, 25 Mei 2011

Kongregasi Misionaris Claris (MC)

Madre Maria Ines
Sejarah Kongregasi dan Perjalanan Ibu Pendiri
Madre Maria Ines Teresa Arias Espinosa lahir di Ixtland del Rio, Nayarit, Mexico pada tanggal 7 Juli 1904 sebagai anak ke lima dari delapan bersaudara.
Selama perayaan kongres Ekaristi Nasional bulan Oktober 1924 dia begitu tersentuh oleh rahmat illahi, sehingga mengambil keputusan yang mantap untuk menyerahkan diri seutuhnya kepada Tuhan dalam hidup membiara. Pada hari raya Kristus Raja tahun 1926 ia membaktikan diri kepada cinta Mahabelaskasih sebagai "kurban bakaran" .
Setelah mengatasi berbagai kesulitan, akhirnya tanggal 5 Juni 1929 ia mewujudkan cita-citanya masuk biara kontemplatif Santa Clara (Claris) di Los Angles, California, tempat para suster mengungsi karena pengejaran terhadap Gereja di Mexico. Pada tahun 1945 dengan persetujuan para pimpinan biaranya dan ijin pemimpin Gerejawi ia mendirikan Kongregasi Misionaris Claris dari Sakramen Mahakudus di Cuernavaca, Mexico. Karya ini berkembang dengan cepat, sehingga pada tanggal 22 Juni 1951 mendapat pengesahan kepausan dari Tahta Suci dan Madre Ines diangkat sebagai Pemimpin Umum yang pertama.
Panggilan hidup doanya, cintanya kepada jiwa-jiwa dan kepada salib melebur dalam dirinya menjadi kepasrahan sepenuhnya terhadap kehendak Allah.Sumber doa baginya adalah Sabda Allah yang dibaca dalam Kitab Suci, direnungkan dalam hatinya dan dibaca kembali serta dihayati dalam persekutuan dengan Gereja.

Ekaristi dan Maria adalah pusat kehidupannya
Di hadapan Tabernakel dan dalam kemesraan sebagai putri Maria, Madre Ines menyelaraskan semua percobaan dan penderitaannya dengan kepentingan-kepentingan Yesus: "Engkau memperhatikan kepentingan-kepentinganKu dan Aku akan memperhatikan kepentingan-kepentinganMu".
Ia mengambil motto Rasul Paulus: "Oportet Illum Regnare" (Dia Harus Meraja), dan karenanya hidup Madre Ines terdorong oleh kedahagaan misioner demi keselamatan jiwa-jiwa. Ia menjelajah beberapa benua dan mendirikan misi-misi di Mexico, Jepang, Indonesia, Costa Rica, Sierra Lione, Nigeria, Amerika Serikat, India,  Spanyol, Irlandia, Korea, Rusia, Argentina, Italia. Madre Ines juga mendirikan sekelompok imam yang disebut "Misionaris Kristus untuk Gereja Universal", dan gerakan/kelompok awam yang bernama "Van Clar".
Tanggal 9 Desember 1980 Madre Ines diterima dalam audiensi pribadi oleh Bapa Suci Paus Yohanes Paulus II, berkenan dengan ulang tahun ke 50 dalam pembaktian membiaranya. Penuh kepercayaan kepada Sri Paus ia membaharui kaul-kaulnya dan menyerahkan segenap anggota keluarga misionernya. Secara spontan Sri Paus berkata, "Betapa setianya! Betapa setianya".
Hamba Allah Madre Maria Ines meninggal dunia pada tanggal 22 Juli 1981 dengan ketenangan, kesederhanaan dan kepasrahan dalam tangan Allah Bapa dalam satu tindakan cinta sempurna, seperti yang telah dihayati semasa hidupnya. Kehidupan dan kematian Madre Ines bagaikan madah pujian, yang bergema di dunia dan memulai madah abadi dalam kontemplasi Allah yang Mahakudus.
Sekarang ini Suster Madre Ines dalam proses beatifikasi, Madre Maria Ines Teresa Arias, MC menerima dari Gereja gelar Hamba Allah dan gelar Venerable (yang pantas dihormati) pada tanggal 3 April 2009.Semoga segala proses beatifikasi dapat berjalan dengan baik.


Bergabunglah bersama kami untuk melayani sesama dalam karya :
    St. Clara
  • Pastoral - Katekase
  • Sosial
  • Pendidikan
  • Kesehatan
Misionaris Claris berkarya di berbagai negara :
  • Roma  - pusat kongregasi MC
  • Amerika - Mexico, Costa Rica, Amerika Serikat, Argentina
  • Eropa - Spanyol, Irlandia, Italia, Rusia
  • Asia - Jepang, Indonesia, Korea Selatan, India
  • Afrika - Nigeria,  Sierra Leone

Semangat Kongregasi Misionaris Claris :
  1. Misioner
  2. Ekaristi
  3. Imami
  4. Marian
Spiritualitas Kongregasi Misionaris Claris :
  1. Kegembiraan
  2. Kesederhanaan
  3. Kepercayaan
Logo


Makna gambar :
  • Salib Misioner : Berusaha melaksanakan rencana Bapa, untuk menyelamatkan semua orang. Bersedia ditugaskan di mana saja.
  • Daun Palem Ekaristik : Jalinan persatuan dengan Sang Maha Suci dalam sembah sujud pada Sakramen Mahakudus. Santapan rohani yang menguatkan.
  • Lentera Imami : Mempersembahkan hidupnya sebagai kurban silih untuk keselamatan jiwa-jiwa.
  • Kecapi Kegembiraan : Hati bagai kecapi yang melambungkan lagu-lagu merdu dari kesediaan hati yang penuh cinta dalam pengabdian kepada Tuhan dan sesama
  • Bunga dan Bintang Marian : Meneladani hidup Maria dalam kesetiaannya kepada Yesus.
  • Oportet Illum Regnare: Dia harus Meraja

Hubungi....

Rumah Regional
Jl. Ngagel Madya no. 1
Surabaya - 60284
Telp. 031-5023827
Fax 031-5040851

Novisiat 
Jl. Mundu no. 27 Madiun - 63131
Telp 0351-452038
Fax 0351-483823

Misionaris Claris
Jl. Biliton no. 10
Madiun - 63122
Telp 0351-494524
Fax 0351-455780

Misionaris Claris
Jl. Duren Sawit Baru Blok A 10 no. 10
Jakarta Timur
Telp. 021-8618071
Fax. 021-8618027

"Que Todos Te Conoscan Y Te Amen, Es La Unica Recompensa Que Quiero" - "Tuhan, semoga semua orang mengenal dan mencintaiMu inilah balasan satu-satunya yang kuinginkan"

Selasa, 24 Mei 2011

Ordo Carmelitarum Discalceatorum (OCD)

Para suster OCD hidup dan tinggal di dalam biara kontemplatif.
Karya kerasulan yang utama adalah mendoakan kepentingan Gereja kudus Allah dan seluruh umat manusia.

Sejarah
Ordo Carmelitarum Discalceatorum (OCD)
Pada tanggal 24 Agustus 1562 St.Teresa Avila memugari Ordo Karmel dan membentuk kelompok kecil dengan nama: Ordo Karmel tak Berkasut.
St. Teresa dari Avilla
Pemugaran dilakukan oleh St.Teresa Avila karena adanya:
1. Perpecahan dalam Gereja yang disebabkan oleh para pengikut Luther (Profanisasi
    Ekaristi Kudus)
2. St.Teresa Avila terdorong untuk menghayati yang lebih sungguh-sungguh dalam menghayati hidup bakti
3. Sungguh-sungguh menghayati nasehat Injil dan hidup dalam klausura yang lebih ketat, dalam komunitas yang lebih kecil.

    menghayati hidup bakti dalam komunitas yang lebih kecil jumlahnya
Dalam perkembangannya Komunitas OCD untuk pria berdiri pada tahun 1580. Sampai pada saat ini biara OCD telah mempersembahkan 20 orang kudus dan 3 pujangga/Doktor Gereja, yaitu:
Yohanes dari Salib, Teresa dari Avilla, dan Theresia dari Lisieux.

Ordo Carmelitarum Discalceatorum (OCD) di Indonesia.
Kedatangan OCD di Indonesia bermula pada tahun 1635. Rm Dionisius OCD dengan Br.Redemptus  OCD

mendarat di Aceh, namun mereka terbunuh. Akibatnya misi OCD di Indonesia terhenti.
Pada tahun 1939, berganti para suster OCD yang datang ke Indonesia melalui negeri Belanda dan membangun Biara suster OCD di Lembang, Bandung.
Pada masa pendudukan Jepang pada tahun 1942, para suster OCD dari Belanda di tawan , dan biara mereka diduduki oleh Polisi. Setelah Indonesia merdeka mereka dibebaskan.
Sementara menanti kejelasan untuk kembali ke Lembang, Bapa Uskup Ende, Mgr. Hubertus Antonius Thijssen SVD, meminta kepada para suster OCD untuk membuka biara di Ende. Maka pada tahun 1953, berlayarlah para suster OCD menuju Ende, Flores. Para suster memilih kota dingin Bajawa menjadi tempat tinggal.
Pada tahun 1960 biara OCD di Lembang kembali di buka. Pada tahun 1994 atas permintaan Uskup Dilli, Timor Leste, suster-suster OCD membuka komunitas di Hera, Dilli.
Sesuai dengan peraturan yang menyatakan, bahwa komunitas suster OCD tidak boleh memiliki anggota lebih dari 21 orang, maka pada tahun 2003 diputuskan melakukan pemekaran dari beberapa keuskupan yang menjadi pilihan. Para suster OCD terdorong untuk memilih Keuskupan Surabaya sebagai tempat karya kerasulan suster-suster OCD berikutnya.

Hubungi..
Biara Karmel OCD
Jl.Kusuma Karmel, Claket-Pacet
Mojokerto 61376
Telp/fax: 0321-691 692